
MAKALAH SEJARAH INDONESIA ABAD 1600 - 1800
“ PENERAPAN POLITIK EKSPANSI PADA MASA PEMERINTAHAN
SULTAN AGUNG TAHUN 1613 – 1645 “
Dosen Pengampu :
Dra. Dewi Salindri, M.Si
Oleh :
Rima Riski Nur Laila 180110301008
Yusi Kusnandasari 180110301020
PROGRAM STUDI ILMU SEJARAH
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS JEMBER
2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat
Allah SWT atas limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga tugas pembuatan makalah
mata kuliah Sejarah Indonesia Abad 1600 – 1800 mengenai “ Penerapan politik ekspansi pada masa pemerintahan
Sultan Agung Tahun 1613 – 1645 “ dapat
terselesaikan. Tak lupa ucapan terimakasih kami berikan kepada Dosen pengampu mata
kuliah Sejarah Indonesia Abad 1600 – 1800 yang telah memberikan kami bimbingan dalam penyusunan makalah
ini.
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata
kuliah Sejarah Indonesia Abad 1600 – 1800. Tentunya dalam pembuatan makalah ini
masih terdapat kekurangan, untuk itu kritik dan saran terhadap penyempurnaan
makalah ini sangat diharapakan. Semoga makalah ini dapat memberi manfaat bagi
kita semua. Terima Kasih.
Penyusun
DAFTAR ISI
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Suatu kekuasaan atau pemerintahan dalam periode tertentu
akan mengalami suatu perkembangan, kejayaan, maupun kemunduran. Hal tersebut
dapat juga dilihat dalam perkembangan kerajaan Mataram Islam di Jawa bagian
tengah. Kerajaan Mataram Islam memiliki banyak arti penting dalam sejarah
peradaban di Nusantara. Masing-masing raja memiliki sumbangsih tersendiri
terhadap perkembangan pemerintahan. Salah satunya ialah Sultan Agung, Ia
merupakan raja ke – 3 yang telah membawa kerajaan pada masa kejayaannya. Sultan
Agung Adi Prabu Hanyokrokusumo, lahir di Kota Gede, Kesultanan Mataram, pada
tahun 1593. Ia wafat di Karta (Plare, Bantul) pada tahun 1645. Sultan Agung memerintah pada 1613-1645.[1] Mataram menjadi kerajaan terbesar yang
berkembang di Jawa dan Nusantara pada saat itu.
Kesultanan Mataram mencapai puncak kejayaan dan
keemasannya dibawah ke pemimpinan Sultan Agung. Namun, pada saat menjadi raja,
kerajaan dalam keadaan kurang baik. Ia mewarisi kondisi politik pada masa
pemerintahan raja sebelumnya yaitu politik ekspansi yang dimulai sejak masa
Panembahan Senopati dan berlanjut pada masa pemerintahan Panembahan Anyakrawati.
Sultan Agung meneruskan perjuangan mereka dan menjadikan Mataram menjadi
kerajaan yang tetap kuat dan menyatukan seluruh wilayah Jawa dan menjaga
integrasi di dalamnya. Pada masa perkembangan kekuasaan Sultan Agung,
wilayah kekuasaan Mataram semakin bertambah luas. Kekuasaan terluas wilayah
Kerajaan Mataram meliputi sebagian besar pulau Jawa yang terbentang dari
Blambangan (Banyuwangi sekarang) sampai Karawang di Jawa bagian barat, bahkan
mencakup beberapa wilayah diluar Jawa seperti Palembang, Sukadana, Banjarmasin,
dan Makassar.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam penulisan makalah ini adalah :
1. Bagaimana latar belakang politik ekspansi yang dijalankan Sultan Agung?
2. Bagaimana penerapan sistem politik ekspansi dari Sultan Agung?
3. Apa dampak dari adanya politik ekspansi bagi Kerajaan Mataram?
1.3 Tujuan dan Manfaat
1.3.1 Tujuan
Berdasarkan
rumusan masalah di atas, tujuan penulisan makalah ini ialah :
1. Mengetahui latar belakang politik ekspansi yang dijalankan Sultan Agung.
2. Menjelaskan penerapan sistem politik ekspansi dari Sultan Agung.
3. Mengidentifikasi dampak dari adanya politik ekspansi bagi Kerajaan
Mataram.
1.3.2 Manfaat
Adapun manfaat yang dapat diambil dari makalah
ini adalah mengetahui tentang Penerapan politik ekspansi pada masa pemerintahan
Sultan Agung Tahun 1613 – 1645
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Latar Belakang Politik Ekspansi yang dijalankan Sultan Agung
Kerajaan Mataram terletak di
daerah aliran Sungai Opak dan Progo yang bermuara di Laut Selatan. Semula
daerah Mataram berupa
hutan yang lebih dikenal dengan Alas Mentaok. Seperti yang kita ketahui, kerajaan Mataram merupakan kerajaan Islam di
pulau Jawa yang pernah berdiri pada abad ke-17. Kerajaan ini dipimpin oleh
suatu dinasti keturunan Ki Ageng Pemanahan, dilanjutkan oleh Sutawijaya
(Panembahan Senopati), Mas Jolang (Prabu Hanyakrawati), dan Sultan Agung. Sultan
Agung adalah raja ketiga dan terbesar di Mataram yang bergelar Panembahan Hanyakrakusuma. Mataram
berkembang menjadi kerajaan terbesar di Jawa dan Nusantara di bawah kepemimpinan Sultan Agung.
Sultan Agung ialah putra dari pasangan Prabu Hanyakarawati dan Ratu Mas
Adi Dyah Banawati. Ayahnya merupakan raja kedua Mataram, sedangankan ibunya
adalah putri Pangeran Benawa, Raja Pajang. Sultan Agung sebenarnya hanyalah
sebuah gelar, nama aslinya adalah Raden Mas Jatmika atau Raden Mas
Rangsang. Sebagaimna umumnya raja-raja Mataram,
Sultan Agung memiliki dua orang permaisuri
pertama, yaitu Putri Sultan Cirebon yang menjadi Ratu Kulon dan melahirkan Raden Mas Syahwawrat atau Pangeran
Alit. Sedangkan yang menjadi Ratu Wetan adalah Putri Adipati Batang (cucu Ki
Juru Martani[2]), dan melahirkan Raden Mas Sayidin yang kelak akan menjadi Amangkurat I.
Pada masa pemerintahannya, Sultan Agung menerapkan konsep kagunganbinataraan
yang artinya kekuasaan raja sebesar
kekuasaan dewa. Kekuasaan negara yang tertinggi ada pada raja. Kekuasaan
merupakan suatu kesatuan yang utuh dan tidak adayang menandingi. Sebenarnya
konsep ini sudah ada sejak permulaan zaman mataram, namun belum terlaksanakan
karena mataram barusaja berdiri, masih dalam taraf pengukuhan dan mencari-cari
bentuk kekuasaan yang akan dipilih.[3]
Barulah pada masa Sultan Agung, konsep keagungbinataraan dirumuskan
dengan lebih jelas dan tegas. Sultan
Agung merupakan raja yang adil dan bijaksana serta berkemauan keras. Pada saat
Ia naik tahta banyak wilayah yang melepaskan diri dari kekuasaan mataram.
Karenanya, Ia berusaha mempersatukan kembali wilayah tersebut di bawah naungan
Mataram. Dengan keberaniannya Ia berusaha menakhlukan kekuasaan seluruh Jawa.[4] Dengan wawasan politik yang dimilikinya Ia berhasil menundukkan banyak
daerah baru, hampir seluruh jawa menjadi daerah kekuasaanya. Sultan Agung mempunyai ambisi untuk
memulihkan kesatuan politik dan ingin mengusai Tuban, Surabaya, dan Pasuruan
agar menjadi padu serta mengislamkan daerah yang akan ditakhlukan. Ia
menggunakan taktik penyerangan di berbagai daerah dengan menggunakan tiga cara,
yaitu menghancurkan musuh dan memusnahkan daerah, menguasai harta kekuasaan dan
mengahancurkan musuh, memusnahkan daerah atau diplomasi. Hal ini digunakan
ketika melakukan penaklukan di pesisir
pantai Pulau Jawa. Ekspansi yang dilakukan menggunakan strategi seimbang
yaitu mengarahkan politik ekspansi ke arah timur dan arah barat. Pada tahun
1613-1625 politik ekspansi dijalankan Sultan Agung di Jawa Timur secara berurut
daerah yang berhasil ditaklukan adalah Wirasaba (1615), Lasem (1616), Pasuruan
(1617), Gresik (1618), Tuban (1619), Madura (1624) dan diakhiri takluknya Surabaya pada 1625. Tahun
berikutnya 1625-1626 sasaran serbuan militer di tujukan ke Jawa Barat untuk
menghancurkan kota Batavia. Puncak ekspansi pada tahun 1628 dan 1629 dan
berakhir dengan pengajuan politik damai dari Gubernur Jendral Van Diemen
(1636). Tahun 1637-1641 ekspansi
dilakukan lagi ke Jawa Timur terutama untuk menaklukan Blambangan. Pada tahun
1641-1645 dilanjutkan ke Jawa Barat serta memadamkan pemberontakan di Sumedang dan
Ukur, juga koloni dan pos pertahanan yang lebih dekat dalam rangka penyerbuan
kembali Batavia. Ekspansi ke arah timur lebih diutamkan karena kota-kota pantai
di Jawa Timur mempunyai kekuatan sosial politik yang mempunyai basis ekonimi
untuk menandingi Mataram. Ia juga memusatkan arah timur untuk menguasai
Surabaya dan arah barat untuk merebut dan mengusir Belanda dari Batavia.
2.2 Penerapan Sistem Politik Ekspansi dari Sultan Agung
Semasa pemerintahan Sultan Agung, Kerajaan
Mataram mengalami perluasan wilayah. Praktek politik ekspansi yang dijalankan
Sultan Agung di antaranya mampu memperluas wilayah kekuasaan kerajaan dari Jawa
Timur, Jawa Tengah, dan sebagian Jawa Barat. Ekspansi yang dilakukan Sultan
Agung di mulai pada tahun 1614 dengan menaklukan Surabaya yang dipimpin
Tumenggung Surapani. Pada tahun 1615 Mataram mulai menaklukan Wirasaba yang
dipimpin Tumenggung Martalaya. Pada tahun 1616 Mataram dapat menguasai Lasem
dan Pasuruan. Selanjutnya pada tahun 1617 Mataram kembali menguasai Pajang yang
dipimpin oleh Pangeran Mandura Reja. Atas perintah Sultan Agung pada tahun 1620
mereka kembali menumpas dan menyerang Surabaya. Pada tahun 1622 Sultan Agung
memberikan perintah kepada Tumenggung Bahureksa (Bupati Kendal) untuk mengusai
Sukadana. Pada tahun berikutnya yaitu 1624 Mataram mulai menakhlukan Madura.
Selanjutnya ekspansi yang menuju arah barat dengan mengusai Batavia yang pada
saat itu dikuasai VOC sehingga pasukan Mataram berhadapan dengan VOC.
Berikutnya pada tahun 1636 Mataram mengirim Pngerang Selarong (Putra Raden Mas
Jolang dan Ratu Tulungayu) untuk menguasai Blambangan. Ekspansi yang dilakukan
di Blambangan sering mengalami kendala bahkan memerlukan waktu yang cukup lama
untuk benar-benar membuat Blambangan takluk. Hal tersebut karena Blambangan
masih menganut ajaran Hindu sehingga dibantu oleh Bali. Keadaan ini karena Bali
merasa satu kepercayaan dengan Blambangan yang masih beragama Hindu. Sultan
Agung dapat mengusai Blambangan namun tidak dapat mengislamkannya. Pengislaman
dilakukan oleh VOC. Gagasan ini ialah rencana dari Gezaghaebber Pieter Luzac
dan mendapat dukungan dari penguasa Maduri dari Pasuruan dan Probolinggo.[5]
2.3 Dampak dari Adanya Politik Ekspansi bagi Kerajaan Mataram
Adanya politik ekspansi di Kerajaan Mataram yang dijalankan Sultan Agung
menjadikan Mataram menjadi luas, meliputi Jawa timur, Jawa Tengah, dan sebagian
Jawa Barat. Dampak dari kegiatan politik
ekspansi ini ialah menjadikan perekonomian kerajaan mengalami kerugian secara
besar-besaran, hal ini karena besarnya biaya untuk perang, persediaan logistik
pasukan, dan biaya kerugian perang. Ekspansi wilayah tersebut juga menguras
sumber daya manusia. Banyak penduduk yang dimobilisasi sebagai pasukan perang.
Tenaga mereka dikerahkan untuk pengangkutan bekal, senjata, dan membuat
bangunan pertahanan. Akibat perang ekspansi terus menerus mau tidak mau
mengakibatkan produksi kemerosotan beras, mengingat bahawa terjadi penyerapan
tenaga dari pertanian untuk dimobilisasi dalam bala tentara mataram.[6] Sultan Agung dipandang sebagai
penguasa yang berhasil menyatukan kerajaan islam di Jawa, apalagi setelah
Panembahan Senopati Wafat terdapat daerah taklukan di Pesisir yang ingin
melepaskan diri dan ingin merdeka, sehingga Sultan Agung berusaha untuk
mempersatukan kembali dan berambisi untuk memperluas daerah kekuasaan, untuk
memperkuat wilayah kekuasaan dengan cara memasukkan kerajaan-kerajaan kecil
untuk dijadikan daerah bawahan Mataram. Sultan Agung menjadikan kehidupan
sosial masyarakat lebih tertata dengan baik berdasarkan hukum islam tanpa
meninggalkan norma-norma lama begitu saja.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan permasalahan
dan pembahasan dalam bab sebelumnya dapat diambil kesimpulan, bahwa latar
belakang politik ekspansi yang dijalankan Sultan Agung ialah karena ia
mempunyai ambisi untuk menguasai Tuban, Surabaya, serta Pasuruan. Selain untuk
menguasai daerah taklukan, Sultan Agung juga ingin mengislamkan daerah – daerah
tersebut. Politik ekspansi yang dijalankan Sultan Agung juga dikaitkan dengan kagunganbinataraan yang maksudnya kekuasaan raja sebesar kekuasaan dewa.
Praktek politik ekspansi terlihat dari penggunaan strategi yang seimbang yaitu
dengan mengarahkan politik ekspansi ke arah timur dan barat. Praktek politik
ekspansi wilayah ini mampu memperluas wilayah kekuasaan dari Jawa Timur, Jawa
Tengah, dan sebagian Jawa Barat. Dampak
dari politik ekspansi ini adalah dari segi politik, menerapakan polotik keagung
binataraan wilyah kekuasaan mataram mencakup Jawa Timur, Jawa Tengah dan
sebagian Jawa Barat. Dari segi ekonomi menjadikan perekonomian kerajaan
mengalami kerugian besar. Segi sosial, Sultan Agung memperkuat wilayah kekuasaan dengan cara memasukkan
kerajaan-kerajaan kecil untuk dijadikan daerah bawahan Mataram dan menjalankan
politik ekspansi dari arah timur dan barat. Serta dampak negatifnya adalah
rakayat Kerajaan Mataram semakin berkurang kareana banyak jatuh korban ketika
mengalami kegagalan dalam proses ekspansi. Segi budaya terlihat dari akulturasi
dan asimilasi antara kebudayaan asli
jawa dan islam.
DAFTAR PUSTAKA
Mataram. G. Moedjanto, Konsep Kekuasaan Jawa Penerapannya oleh Raja-Raja
Mataram Yogyakarta: Kanisius, 1987
R.
Moh. Ali, Perjuangan Feodal. Jakarta: Ganoko,1963
Margana, S. 2012. Ujung Timur
Jawa 1763-1813 Perebutan Hegemoni di Blambangan. Yogyakarta: Pustaka Ifada
Sartono Kartodirdjo, Pengantar Sejarah Indonesia Baru 1500-1900.
Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1986
Abimanyu, Soedjipto.2017. Babad Tanah Jawi. Yogyakarta: Laksana
Ricklesfs, M.C.2005. Sejarah Indonesia Modern 1200-2004.
Jakarta: PT Ikrar Mandiriabadi
[2] Ki Juru Martani adalah tokoh cerdik yang
menjabat sebagai patih pertama dalam sejarah Kerajaan Mataram.
[3] G. Moedjanto, Konsep Kekuasaan Jawa Penerapannya
oleh Raja-Raja Mataram (Yogyakarta: Kanisius, 1987),hlm.95
[5] Margana, S. 2012. Ujung Timur Jawa, 1763-1813 Perebutan
Hegemoni di Blambangan (Yogyakarta: Pustaka Ifada), hlm. 158-168
[6]
Sartono Kartodirdjo, Pengantar
Sejarah Indonesia Baru 1500-1900 (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama,
1986), hlm.124.
Komentar
Posting Komentar